Kelulusan Sekolah, Antara Lulus dan Tidak Lulus (Tertunda Lulusnya) Lalu kemana…?

25 Jun

Beberapa hari yang lalu tetapnya pertengahan bulan Juni 09, semua sekolah baik dari SD, SLTP dan SLTA mengumumkan kelulusan. Berbagai ekspresi mewarnai berita tersebut, ada yang senang bercampur terharu, menangis sedih serta histeris bahkan sampai pingsang dan ‘mengamuk’.

Pengumuman yang berbunyi TIDAK LULUS merupakan dua kata yang seolah olah sebagai vonis kegagalan atau terompet kematian yang sangat menakutkan khususnya bagi siswa yang bersangkutan dan umumnya bagi orang tua siswa serta para gurunya. Sedangkan kata LULUS seolah angin surga yang datang dan melambungkan kegembiraan yang luar biasa, sehingga hari pengumuman kelulusan seolah-olah hari penentuan siswa gagal lalu masuk ‘jurang’ atau berhasil dan ‘terbang ke langit’

Jika melihat dari kacamata orang dewasa terhadap  reaksi siswa dalam mensikapi kelulusan dan ketidaklulusan, mungkin geleng-geleng kepala, namun jika kita sebagai orang tua atau gurunya  mungkin akan terbawa perasaan yang dialami siswa meskipun berbeda dalam mengekspresikannya. Tapi jika kita sebagai siswa yang menghadapi kejadian tersebut, mungkin tidak jauh beda apa yang dilakukannya.

Kata TIDAK LULUS seolah-olah mengandung makna GAGAL atau vonis KEGAGALAN yang biasa diartikan PUTUS HARAPAN atau PUTUS ASA yang seolah olah mengandung arti ‘kejam’, bagaimanapun juga penulis bukan ahli bahasa. Jika kata tersebut di ganti menjadi BELUM LULUS atau KELULUSAN DI TUNDA, mungkin terdengar agak ‘ramah’ meskipun artinya tidak jauh beda. Bisa di bayangkan jika pada hari pengumuman kelulusan siswa ‘divonis’ TIDAK LULUS, ibarat tersambar petir di siang bolong.

Ketika siswa menerima kelulusan maka kegembiraan yang diungkapkan dengan berbagai cara, ada yang sujud syukur, corat coret  baju atau pawai memakai kendaraan bermotor dll. Namun berapa lama mereka merasakan kegembiraan, Setelah lulus mereka kemana? Jika lulus SD dan SLTP kemungkinan besar mendaftar ke sekolah tingkat diatasnya, tapi bagi yang lulus SLTA, bagi yang beruntung bisa mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, namun sebagian besar  mungkin bekerja atau menganggur.

Siswa yang tidak lulus bisa mengulang pelajaran di kelasnya atau mengambil Kejar Paket (A,B,C), namun dalam melakukan kegiatan tersebut  mungkin ada beban psikologis yang dialami oleh para siswa yang ‘gagal’, bisa saja siswa merasa sebagai orang yang bodoh dan terpinggirkan sehingga ketika tidak lulus ada yang mengambil keputusan untuk tidak mengulang atau mengambil Kejar Paket.(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: