Silsilah Garis Keturunan, Antara ingatan, Lupa dan Terlupakan

10 Jun

Manusia hidup dan berada di dunia melalui melalui proses dalam kandungan selama kurang lebih 9 bulan 10 hari. Selama dalam kandungan di sebut janin dan mendapat asupan makanan dari ibunya melalui tali pusar. Setelah lahir maka tali pusar di potong sehingga asupan makanan sang bayi melalui ASI atau makanan pengganti. Dalam proses pertumbuhan yang normal, manusia dari bayi, anak-anak, dewasa, tua, lanjut usia dan selanjutnya sesuai hukum alam maka manusia meninggal dunia dan digantikan oleh manusia lain.

Dalam kehidupan di dunia, manusia tidak bisa di lepaskan dari hubungan keluarga, dimana ia sebagai manusia lahir di muka bumi dari seorang ibu dan bapak, selanjutnya ia melahirkan atau ikut andil dalam proses adanya terciptanya sebuah janin menjadi seorang manusia. Sehingga dalam silsilah keluara muncul istilah Buyut, kakek nenek, Bapak ibu , anak, cucu, cicit dan seterusnya, dimana setiap orang mengalami proses secara bergantian. Saat sekarang sang cicit manjadi manusia yang paling muda usianya dalam keluarga, namun pada suatu saat kelak akan menjadi kakek atau nenek yang secara usia paling tua dalam keluarga tersebut.

Setiap manusia mempunyai silsilah garis keturunan, namun tidak semua orang mengetahui secara pasti dan urut silsilah garis keturunannya. Ada orang yang beruntung masih mempunyai catatan garis keturunan beberapa generasi, mungkin bisa mencapai tujuh generasi atau lebih, namun tidak sedikit orang yang tidak paham siapa orang tuanya atau kakek neneknya. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh proses kehidupan yang dialami orang tersebut, baik karena factor lingkungan atau situasi yang terjadi pada saat itu, atau mungkin factor internal keluarganya.

Silsilah keluarga yang masih terjaga dan tercatat secara baik dan utuh biasanya dimiliki oleh keluarga-keluarga kerajaan/kraton beserta kerabat-kerabatnya, namun sebagian orang biasa juga masih mempunyai catatan silsilah keluarga. Namun banyak orang yang mempunyai silsilah keluarga tapi tidak tercatat dan di dokumentasikan, sehingga catatan garis keturunan hanya ada di dalam ingatan setiap anggota keluarga. Sehingga seiring dengan wafatnya salah satu kerabat/generasi tua, maka semakin luntur dan hilangnya garis keturunan, yang menyebabkan semakin jauhnya hubungan keluarga dan hal ini cenderung memisahkan hubungan keluarga dan famili sehingga seolah-olah menjadi orang lain.

Fenomena lunturnya silsilah keluarga saat ini sudah banyak terjadi dan hal ini kelihatannya bukan suatu hal yang mencemaskan, meskipun berpengaruh terhadap generasi selanjutnya. Penulis ambil contoh di beberapa desa di daerah Purworejo, biasanya setiap desa mempunyai makam leluhur yaitu orang yang pertama kali merintis (bahasa jawa : babat alas ) dan tinggal di desa tersebut. Dari leluhur tersebut maka lahirlah generasi-generasi yang tinggal di desa tersebut sehingga menjelma menjadi sebuah pemukiman dengan jumlah warganya bisa mencapai 2000, meskipun dalam prosesnnya ada warga luar daerah yang masuk dan ada warga desa yang keluar daerah, namun dalam perkembangannya penduduk desa tersebut masih mengakui bahwa mereka mempuyai leluhur desa, yaitu orang yang pertama kali merintis adanya desa tersebut.

Jika setiap keluarga yang tinggal di desa tersebut di buatkan sebuah silsilah keluarga dan di tarik ke atas/pendahulu, maka akan sampai pada leluhur desa yang bersangkutan, namun kemungkinan ada beberapa generasi yang hilang yang tidak bisa tercatat karena tidak ada saksi sejarah yang masih hidup. Hal tersebut disebabkan karena silsilah keturunan tidak di dokumentasikan secara tertulis namun hanya berdasarkan ingatan. Dalam kejadian tersebut tentunya kita tidak bisa menyalahkan siapapaun, namun sebagai catatan kita akan pentingnya sebuah catatan tertulis.

Ada kejadian yang penulis alami, ketika bertemu dengan orang tua yang berasal dari desa tetangga. Dari pembicaraan tersebut di ketahui ternyata orang tersebut berasal dari desa penulis, namun karena menikah dengan orang luar desa sehingga mengikuti suaminya. Penulis tidak mengenal orang tersebut dan sebaliknya orang tersebut tidak kenal penulis, namun ketika penulis menyebutkan simbah buyut, maka orang tersebut mengenalnya.

Bagaimanapun juga manusia hidup tidak bisa lepas dari generasi sebelunya dan masih tersangkut dengan generasi sesudahnya, apakah manusia hidup didunia hanya ‘numpang’ lewat lalu di lupakan. Gajah mati meninggalkan Gading, Manusia mati meninggalkan nama, sampai sejauh mana kita peduli pada diri sendiri keluarga dan orang lain?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: