Kemiri , Kutoarjo : Layar Tancap di Tengah Perkembangan Teknologi Informasi

18 Mei

Informasi lengkap = Http://ngangkasi.wordpress.com

Sabtu sore 17 Mei penulis melihat promosi salah satu dealer kendaran bermotor bahwa sabtu malam mengadakan layar tancap di Alun-alun kemiri dengan judul ‘Laskar Pelangi’. Ada hal cukup menarik bagi penulis untuk melihat datang ke acara tersebut bukan tertarik kepada judul filmnya, namun ingin melihat suasana dan nuansanya karena sudah beberapa tahun (mungkin lebih 5 tahun) tidak ada layar tancap.

Pemutaran film di layar tancap atau lebih di kenal dengan nama layar tancap merupakan film layar lebar yang dulu biasanya diadakan oleh produsen rokok atau obat, di beberapa daerah di Kutoarjo, layar tancap di sebut dengan istilah sorot karena ada sinar cahaya yang di pancarkan melalui proyektor menampilkan gambar bergerak.

Film layar lebar biasanya di putar di gedung bioskop, di Kutoarjo dulu ada dua Gedung bioskop yaitu Pelangi di Jl. Pangeran Diponegoro dan Bioskop Sawunggalih. Di Kota Purworejo dulu juga terdapat dua gedung Bioskop yaitu Pusaka dan Bagelen, namun semua Gedung bioskop tersebut sudah tutup sejak tahun 98-an. Sehinga sudah sebelas tahun dari sekarang.

Sebab tutupnya gedung bioskop karena terus merugi, hal ini di sebabkan semakin banyaknya aneka hiburan di TV dan banyaknya CD bajakan sehingga banyak orang yang sudah menonton film menggunakan VCD player sehingga ketika film tersebut di putar di gedung bioskop, banyak orang yang tidak tertarik untuk menonton lagi.

Dari kenyataan diatas memberikan indikasi bahwa film layar mengalami masa redup karena di gantikan oleh film – film senetron di TV sehingga ketika ada pertunjukan layar tancap terdengar agak aneh dan lain. Sabtu malam penulis datang untuk melihat perrtunjukan layar tancap di alun-alun kemiri, sekitar pukul 20.00 sampai di sana dan ternyata sangat ramai oleh penonton yang memenuhi alun-alun dan sekitarnya.

Hal yang beda dengan layar tancap jaman dulu adalah pada peralatan untuk menampilkan gambar, setahu penulis kalau dulu menggunakan proyektor film dan gulungan pita film yang di putar sehingga bisa menampilkan gambar. Namun yang penulis lihat di layar tancap sekarang menggunakan LCD proyektor yang di sambungkan ke Laptop dan menggunakan VCD (Video Compact Disk), Gambar di pancarkan lewat LCD proyektor dan di arahkan ke layar tancap.

Namun yang kelihatanya lebih mantap adanya peralatan tambahan berupa Salon/Speaker di sisi kanan kiri layar tancap sehingga suaranya lebih mantap dan peralatan lain yang kelihatannya seperti alat control dan pengatur suara. Semua peralatan di letakkan di dalam posisi terbuka meskipun ada sebagian yang ada di bak truk, penulis hanya kepikiran gimana kalau terjadi hujan, wah bisa kacau acaranya. Dari kualitas gambarnya memang sangat bagus karena tidak ada garis-garis yang kadang muncul seperti pada film yang menggunakan pita film.

Jika penulis lihat penontonnya, cukup menarik karena meskipun banyak yang antusias untuk melihat filmnya, namun banyak juga anak-anak muda yang sekedar nongkrong di jalan sekitar alun-alun, mereka seolah tidak mempedulikan film yang di putar namun lebih enjoy dengan suasana keramaian. Selain itu keramian semakin bertambah dengan banyaknya pengendara motor yang hilir mudik di sekitar alun-alun.

Penulis sempatkan berkeliling di sekitar perapatan kemiri yaitu di selatan pasar, wah ternyata di tempat tersebut ramai oleh anak muda yang sekedar nongkrong dan beli makan dan jajan. Penulis sempatkan membeli binggel goreng atau ada yang menyebutkan geblek goreng ( makanan apa ini ?). Bentuknya bundar dan ada lubang di tengahnya, rasanya gurih dan di makan agak alot dan lunak. Malam itu masih ramai karena adanya beberapa penjual sate winong (sate kambing muda), bakso, ronde, bubur madura, mie ayam serta warung, apotik,bengkel dan toko yang masih buka.

Jika penulis amati penonton yang datang ke alun-alun tidak hanya sekedar ingin melihat film namun banyak yang sekedar mencari suasana seperti penulis. Disisi lain layar tancap bisa mengingatkan memori akan kejayaan film layar lebar sehingga bisa sebagai ajang nostalgia.

  1. Sehingga film-film tersebut hanya sekedar untuk hiburan.

Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi informasi dan media hiburan dimana munculnya internet, TV-TV swasta, Handphone dengan berbagi fasilitas, play Station, VCD Player dll sehingga membuat orang cenderung lebih individual dalam menikmati hiburan sehingga dengan adanya pemutaran film di layar tancap dapat menjadi media untuk berinteraksi dan bersama-sama menikmati hiburan film. Hal ini cukup bagus selain untuk kebersamaan juga lebih menghidupkan suasana yang berefek pada perekonomian khususnya para pedagang.

Namun yang menjadi perhatian adalah faktor keamanan dan ketertiban lingkungan, hal ini tanggung jawab kita semua karena membutuhkan kedewasaan semua orang yang terlibat baik penonton, penyelanggara, petugas keamanan dan warga sekitar, sehingga setiap pertunjukan dan hiburan dapat berjalan dengan aman dan tertib (Ngangkasi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: