PNPM Kec. Kutoarjo, Purworejo : Gotong Royong sebagai bentuk kepedulian dan sumber daya masyarakat Pedesaan.

11 Mei

Minggu 10 Mei 2009 mulai jam 08.00 di desa penulis, mulai pelaksanaan pembangunan jalan paving blok. Jalan tersebut merupakan jalan tembus antara dua jalan di RT penulis. Dana yang digunakan bersumber dari dana PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat ) di desa penulis. Adapun dana yang dialokasikan untuk pengerjakan jalan tersebut adalah Rp 3 jutaan. Pengerjaan jalan tersebut merupakan salah satu program kerja pembangunan fisik dimana penulis merupakan sekretaris panitia pembangunan khusus di RT tersebut.

Dana 3 jutaan memang minim jika untuk membuat jalan paving block dengan panjang 54 m dan lebar jalan yang di paving 1,3 m + cor kanan kiri sehingga lebar total 1,5 m. Namun dengan budaya gotong royong yang masih kental di masyarakat kami, kendala-kendala /kekhawatiran akan kekurangan dana dapat diatasi, adapun hal-hal yang membuat pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan adalah :

1. Pekerja

Jumlah pekerja yang mengerjakan sekita 25 orang pria mulai dari anak-anak (usia > 10 tahun) pemuda dan orang tua, semua bahu membahu bergotong-royong. Anak-anak memang ikut karena kesadaran sendiri tidak di perintah karena kebisaan di tempat penulis, anak-anak suka membantu pekerjaan orang tua meskipun orang tuanya sudah terlibat di pekerjaan tersebut.

Selain itu ada 9 wanita yang terlibat secara tidak langsung yaitu menyiapkan konsumsi selama pengerjakan pekerjaan tersebut. Biasanya pagi ada 4 orang wanita yang menyiapkan konsumsinya dan sore ada 5 orang wanita.

2. Peralatan

Semua peralatan yang digunakan merupakan alat yang dibawa oleh pekerja/warga mulia dari cangkul, sabit, ember, tali, peralatan pertukangan dll sehingga tidak ada dana yang di gunakan untuk membeli peralatan.

3. Ragam Pekerjaan

Untuk pembagian kerja tidak ada patokan khusus, biasanya untuk anak-anak pekerjaannya ringan misalkan membawakan paving, mengantar peralatan, Tukang bisaanya mengatur pekerjaan dan memasang paving, semua ikut terlibat karena pekerjaan pemasangan paving blok cukup mudah sehingga semua orang bisa mengerjakan, hanya dibutuhkan pengawasan agar hasil pekerjaan baik dan sesuai rencana. Untuk para wanita dilibatkan di pengadaan dan penyiapan konsumsi para pekerja.

4. Pembagian Pekerjaan

Pertama kali adalah mengukur jalan yang akan di paving blok, memasang tali dilanjutkan dengan membersihkan jalan dari tanaman pagar, akar pohon dan pohon yang ikut di terjang, sementara beberapa orang mengurus penyiapan tempat , ada yang membawakan paving, pasir dan semen, selanjutnya mulai pemasangan paving blok dan sebagian mulai mengecor. Semua pekerjaan mengalir meskipun tidak ada orang yang khusus mengatur dan memerintah, semua sudah tahu pada posisinya masing-masing.

Semua pekerjaan dilaksanakan secara gotong royong tanpa ada imbalan materi, hanya harapan agar jalan yang di bangun dapat lebih baik sehingga semakin nyaman menggunakannya. Namun ada hal-hal yang menjadi kelemahan system gotong royong, setidaknya yang penulis amati dan alami selama ini :

1. Tidak ada tanggung jawab yang jelas

Semua orang yang terlibat di ragam pekerjaan, sehingga tanggung jawab pada tiap-tiap pekerjaan tidak jelas, misalkan pengangkutan, pemasangan, pengecoran, semua ditanggung oleh semua orang yang bekerja.

2. Garis Komando/Perintah yang kabur/samar

Tidak adanya pemimpin yunga resmi mengakibatkan banyak orang yang mengatur sehingga jika ada perbedaan pada teknis pelaksanaan pekerjaan, menyebabkan perdebatan sehingga lebih banyak bicara dari pada bekerja.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan system gotong royong, namun selama ini jenis pekerjaan tersebut terbukti cocok untuk memperingan pekerjaan yang berat dan memakan banyak biaya khususnya untuk pengerjaan prasarana umum. Dibandingkan dengan kelebihannya maka kekurangan system gotong royong ibarat seni yang selalu melekat pada system tersebut, meskipun demikian alangkah baiknya kelemahan-kelemahan tersebut dapat di atasi.

Pada dasarnya masyarakat pedesaan mudah untuk diajak maju asalkan ada program yang jelas, nyata dan ada yang mengatur dan memimpin serta adanya dana stimulan, karena pedesaan menyimpan potensi dan sumberdaya yang cukup besar yaitu semangat gotong royong dan solidaritas yang tinggi. (ngangkasi)

2 Tanggapan to “PNPM Kec. Kutoarjo, Purworejo : Gotong Royong sebagai bentuk kepedulian dan sumber daya masyarakat Pedesaan.”

  1. Wahyu Handoko Mei 11, 2009 pada 4:56 pm #

    Saya berpikir kenapa selalu dalam bentuk fisik ya kalo yang dianggap ‘membangun’ di desa. Seandainya dana PNPM iti dibuat usaha yg menghasilkan dana akan lebih bagus sebenernya. Hanya share saja, karna pernah diajak diskusi hal ini juga di kampung, tapi sepertinya warga selalu melihat ‘membangun’ itu selalu dalam bentuk fisik. Kalau saya usul senang dibelikan bibit tanaman atau apalah yang selain berproduksi juga hijau, gitulah…

  2. ngangkasi Mei 12, 2009 pada 1:26 am #

    Saat ini pelaksanaan PNPM di tempat penulis memang masih diprioritaskan pada pembangunan fisik, jika program tersebut berhasil maka di lanjutkan ke bidang lain (misal: bantuan usaha),trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: