Perlunya Penambahan Nilai pada Produk Asli Purworejo

20 Apr

Sering saya berbicara dengan orang dari luar Purworejo, ketika mereka menanyakan ciri khas makanan Purworejo, agak susah menjawabnya memang ada beberapa produk purworejo yang cukup dikenal, misalkan lanting, kue lompong,durian, gula jawa, gebleg, clorot. Namun belum cukup kuat image produk tersebut untuk mewakili purworejo. Dibandingkan daerah lain misalkan gethuk goreng Purwokerto/Banyumas, lumpia Semarang, sate Madura, gudeg Jogja, Bakso Solo, dsb. Atau purworejo dikenal sebagai kota apa, apakah kota pelajar, wisata, pertanian atau industri? Selama ini Purworejo dikenal sebagai kota pensiun, mungkin sebutan yang berkonotasi tempat beristirahat sehingga kurang dinamis.

Beberapa kali dalam perjalanan penulis sempatkan survei di supermarket-supermarket di kota-kota besar, misalkan Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Tegal, Surakarta, sampai Sidoarjo. Dari sekian barang yang dijual sebenarnya ada barang yang di Purworejo diproduksi secara luas dan banyak ditemukan di seluruh pasar yang ada di Kabupaten Purworejo, yaitu gula jawa, namun tidak ada merk yang berasal dari kabupaten Purworejo. Padahal jika diamati, kualitas gula purworejo tidak kalah, bahkan cenderung lebih baik. Satu hal yang ironis ketika saya sempatkan bertanya konsumen di Sidoarjo, bahwa gula jawa di sana berasal dari Purwokerto/Cilacap yang jaraknya lebih jauh dibandingkan dengan Purworejo.

Satu hal lagi ketika penulis berkunjung ke Pabrik Jamu Sido Muncul Semarang, dijelaskan oleh Public Relation (Bp Bambang Supartoko, SP) bahwa ada bahan baku yang berasal dari sekitar kabupaten Purworejo, misalkan Kulon Progo dan Magelang. Namun ada indikasi bahan bakunya sebagian berasal dari Purworejo, karena di beli oleh pedagang luar Purworejo, sehingga tidak ada embel-embel Purworejo. Pernah pula penulis naik kereta api Sawunggalih dari stasiun Kutoarjo, ketika di Stasiun Kebumen naik pedagang yang membawa barang dagangan yang cukup banyak, yaitu lanting. rupanya pedagang tersebut baru kulakan dan akan di jual di Purwokerto.

Dari gambaran diatas terlihat bahwa Purworejo sebenarnya mempunyai potensi yang besar akan produk-produk pertanian dan olahan. Koran SM 1 April 2009 menampilkan berita bahwa Bupati Purworejo diusulkan peroleh penghargaan dari Presiden karena produksi padi Kabupaten Purworejo tahun 2008 meningkat 5%. Apalagi Purworejo di kenal sebagai salah satu lumbung padi di Jawa Tengah. Pernah penulis berkunjung ke KUD Sri Rahayu di Kecamatan Grabag, Purworejo. KUD tersebut mempunyai mesin pengering jagung dengan kapasitas ratusan ton setiap minggunya. Dari situ dijelaskan bahwa untuk Purworejo khususnya bagian pesisir yang meliputi kecamatan Grabag, Ngombol dan Purwodadi terbentang ratusan hektar yang ditanami jagung. Selama ini penjualan jagung ke pabrik-pabrik diluar Purworejo dalam bentuk polos, artinya tanpa merek.

Untuk Purworejo khususnya daerah Kemiri dan Pituruh sudah lama dikenal sebagai daerah pembibitan tanaman, diantaranya Albe(albesia), mahoni, Jati, coklat dsb. Ambil contoh desa Rowobayem, Kemiri, Kerep, Kroyo dan Rejosari. Disana membentang lahan untuk pembibitan, sehingga jika musim panen akan terlihat dalam satu hari puluhan truk yang hilir mudik membawa bibit keluar kota bahkan ke luar pulau.

Dari potensi yang di miliki oleh kabupaten Purworejo, secara langsung tentunya akan meningkatkan taraf hidup warga Purworejo, karena dari potensi tersebut menciptakan banyak lapangan pekerjaan. Akan muncul mata rantai ekonomi dari produsen(petani, perajin), pekerja/buruh serta pedagang, selanjutnya imbasnya ke sektor yang lain, misalkan pendidikan, angkutan, dsb. Namun apakah cukup sampai di situ? Tentunya perlu langkah pengembangan dan kerjasama yang baik, konsisten dan terarah, yaitu dari warga purworejo, produsen, konsumen dan pemerintah.

Produsen sebagai penghasil barang sebaiknya jangan puas dengan hasil yang sudah diperoleh. Perlu adanya legalisasi usaha (CV), pemberian merek dagang sehingga adanya standarisasi produk yang dihasilkan. Misalkan untuk bibit tanaman sebaiknya ada labelnya sehingga akan menaikkan nilai jual barang serta jaminan kualitas produk sehingga dapat bersaing dengan daerah lain. Selama ini produk bibit, gula jawa, jagung maupun padi banyak di jual dalam bentuk curah/polos tanpa merek.

Mungkin sebagian produsen/penghasil produk (gula jawa, bibit, jagung,bibit) di Purworejo sudah terbiasa dengan rutinitas, sehingga jika diajak berfikir untuk pengembangan produk ada yang kurang respec, yang penting bagi mereka usaha tidak rugi dan dapat menghasilkan keuntungan. Ini adalah tugas dan tantangan bagi warga Purworejo yang peduli akan produk sendiri, misalkan pihak Perguruan tinggi atau pemerintah untuk melakukan pendampingan. Namun tidak ada salahnya jika ada warga purworejo yang tampil menjadi agen untuk mengolah produk dari produsen sehingga menjadi produk yang menarik dan standarisasi, dan tetap menampilkan ciri khas Purworejo.

Peran pemerintah sangat penting, disamping sebagai pendamping dan memberikan bantuan dalam bentuk modal usaha serta penyuluhan, Pemerintah juga di harapkan dapat memasarkan atau memberi informasi pasar kepada produsen/petani. Pemerintah dapat bekerja sama dengan pemerintah daerah lain atau dengan industri untuk memasarkan produk. Misalkan pemerintah bisa bekerja sama dengan industri jamu, sehingga produk tanaman obat-obatan bisa dijual langsung ke industri. Atau pemerintah bekerja sama industri olahan jagung sehingga produk jagung yang melimpah dapat langsung tersalurkan dari petani langsung ke industri.

Sudah saatnya warga purworejo lebih peduli akan standarisasi produk dan merek, serta kemasan yang menarik. Selama ini mungkin sudah cukup berhasil dalam memproduksi dan menjual barang-barang yang dihasilkan, namun disamping hasil yang dihasilkan belum optimal juga belum bisa mengangkat nama kabupaten Purworejo. Ini sangat penting sekali, baik bagi produsen maupun kabupaten Purworejo. Branch image akan merk dan asal daerah sangat menentukan nilai harga jual produk. Tentunya kapan lagi ini di mulai, dan siapa lagi yang peduli kalau bukan warga kabupaten Purworejo.

Jika semua produk yang dihasilkan Purworejo mempunyai merk dan terstandarisasi, tentunya akan mendongkrak omzet penjualan dan berimbas pada perekonomian masyarakat di Purworejo, mengurangi pengangguran serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Purworejo. Sehingga ciri khas Purworejo akan muncul dan semakin dikenal

Satu Tanggapan to “Perlunya Penambahan Nilai pada Produk Asli Purworejo”

  1. mangnanas Mei 11, 2011 pada 10:38 pm #

    apik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: