PEMILU ULANG, UNTUK SIAPA ?

15 Apr

pemiluPelaksanaan pemilu 2009 di seluruh Indonesia masih menyisakan beberapa ganjalan yang sampai sekarang masih di persoalkan, di banding dengan pemilu 2004, kualitas pemilu 2009 masih di bawahnya artinya lebih baik pemilu 2004. Persoalan pemilu 2009 di mulai dari penetapan partai yang sah untuk pemilu 2009 terus adanya perubahan penetapan caleg yang terpilih yang tadinya berdasarkan nomor urut menjadi suara terbanyak, kekisruan daftar pemilih tetap (DPT), banyaknya pemilih yang tidak mendapat undangan untuk menyontreng sehingga si paksa golput, pemilih yang tidak mau menggunakan hak suara (golput) dan sekarang setelah penyontrengan masalah semakin bertambah banyak, mulai dari money politik, pembukaan surat suara tanpa melalui mekanisme, tertukarnya surat suara. dll

Disamping kemelut setelah pemilu, sekarang ini kita sering melihat dan mendengar berita tmengenai manufer-manufer para elite politik, mulai dari JK yang memberikan ucapan selamat kepada SBY atas keunggulan Demokrat meskipun baru berdasarkan perhitungan quick qount, di lanjutkan pertemuan JK dengan SBY. Untuk PDI P Megawati bertemu dengai Gus Dur, Wiranto. Selain itu Prabowo mengadakan pertemuan dengan partai partai kecil. Dan masih banyak berita berita mengenaik rencana dan penjajagan antar partai. Sesuatu yang wajar dan sering terjadi dalam politik, sehingga di politik di kenal istilah kawan bisa menjadi lawan dan lawan bisa menjadi kawan. Namun beberapa partai politik mengumpulkan data-data tentang kecurangan pemilu, satu hal yang menjadi kekawatiran bersama adalah jika mensikapi kekurangan dan kecurangan pemilu 2009 dengan mosi tidak percaya dan berujung pada pemilu ulang. Dan yang paling mengkhawatikan adalah kekurangan siapan untuk menerima kekalahan.

Namun coba kita tengok kebawah, bagaiman para rakyat jelata dengan situasi yang terjadi sekarang ini. Semenjak munculnya permasalahan-permasalah setelah penyontrengan, penulis mencoba menanyakan kepada orang-orang mulai dari mahasiswa, pegawai, petani mengenai pemilu, yaitu bagaimana tanggapan mereka jika pemilu di ulang. Berbagai tanggapan muncul dari yang merepotkan, pemborosan anggaran, melelahkan dan menyusahkan, artinya mereka mempunyai kesimpulan mereka tidak setuju jika pemilu di ulang. Jika terjadi kemelut pemilu yang berlarut-larut maka rakyatlah yang paling menderita, ibarat Gajah bertarung pelanduk mati di tengahnya.

Kalau di renungkan jika terjadi pemilu ulang , berapa dana yan perlu dikeluarkan lagi, biaya untuk melaksanakan, memakan waktu yang tidak sebentar, pikiran yang harus di curahkan, Namun apakah hasil yang di dapatkan akan menjamin lebih baik dari pemilu sebelumnya? Belum tentu. Faktor di luar itu yang tidak kalah penting adalah stabilitas ekonomi, meliputi iklim usaha , kepastian berinvestasi, kepercayaan investor asing dan image/harga diri Bangsa Indonesia di mata dunia. Kita tidak ingin seperti Thailand di mana pendukung PM yang kalah memprotes pada pemerintah sampai membatalkan KTT yang baru akan di mulai sehingga menganggu stabilitas dan menjatuhkan nilai dan kepercayaan asing pada negara tersebut.

Memang kita harus banyak belajar mengenai demokrasi dan kedewasaan perpolitik pada AS, dimana di negara tersebut demokrasi sudah tertata dan kedewasaan berpolitik sudah di hayati dan diterapkan oleh para elite politik. Bangsa Indonesia mungkin masih dalam tahap belajar dan meniru. Sehingga untuk melaksanakan pemilu yang benar-benar bersih dan sempurna kelihatannya masih sulit. Apalagi jika hal ini sengaja di buat oleh orang–orang yang mencari kesempatan dalam kesempitan dimana menginginkan bangsa indonesia terus dirundung permasalahan. Kegagalan pemilu adalah kegagalan bangsa indonesia dalam berdomokrasi, sebaliknya keberhasilan pemilu adalah keberhasilan bangsa indonesia. Saat sekarang ini yang paling penting adalah kita dalam mensikapi keadaan ini, mungkin kalau menuruti aturan hukum secara mutlak maka dapat menghilangkan hati nurani.

Apa yang di harapkan dan apa yang didambakan oleh rakyat. Rakyat mendambakan kesejahteraan, keamanan, kehidupan yang lebih baik, harga – harga kebutuhan terjangkau, mengenyam pendidikan, mempunyai penghasilan dan dapat hidup layak. Mungkin rakyat tidak mempermasalahkan siapa yang menjadi pemimpinnya, yang penting dapat membawa kehidupan rakyat lebih baik. Sehingga jika ada wacana pemilu ulang, untuk siapa? (ngangkasi)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: