KOMENTAR

11 Apr

semar

Dikisahkan pada suatu zaman hidup sebuah keluarga yang tinggal di lereng gunung, keluarga tersebut mempunyai seorang anak pemuda usia belasan tahun. Pada suatu hari bapak dan anak tersebut pergi ke pasar yang jaraknya satu hari perjalanan, dengan melewati hutan, perkampungan, persawahan dan sungai. Adapun keperluannya adalah untuk belanja barang-barang yang akan digunakan untuk hajatan. Untuk membawa barang belanjaan maka mereka membawa seekor kuda.

Setelah melewati hutan, sang bapak menyuruh anaknya naik kuda, sedangkan ia sendiri berjalan di depan menuntun kudanya, sampai di perkampungan mereka berpapasan dengan seorang pengembala kerbau.

Pengembala : ‘ selamat pagi pak, mau kemana bpk pagi-pagi dengan membawa kuda?’

Bpk : ‘ Mau ke pasar untuk belanja’

Pengembala : ‘ Itu anak bpk?’

Bpk : ‘ Iya ini anak laki-laki saya’

Pengembala : ‘ Kenapa Anaknya naik kuda sedangkan bpknya malah berjalan, kan kasihan bpknya’

Setelah berbicara dengan pengembala maka bpk anak tersebut melanjutkan perjalanan, selanjutnya sang anak berjalan sedangkan bpknya naik kuda. Setelah mereka melewati persawahan bertemu dengan seorang petani yang sedang beristirahat di pinggir jalan

Petani : ‘Selamat siang pak, panas-panas begini mau kemana?’

Bpk : ‘Mau ke pasar untuk belanja’

Petani : ’Itu anak bpk? Mengapa berjalan sedangkan bpk malah naik kuda , apa tidak kasihan anaknya ?

Setelah perbincangan dengan petani, lalu anaknya naik kuda bersama bpknya, mereka melanjutkan perjalanan menyusuri persawahan, beberapa kali kudanya berhenti karena beban di punggungnya yang berat, ketika mereka sampai di pinggir sungai berpapasan dengan pedagang, tanpa banyak tanya pedagang tersebut berkata ’apakah anda tidak kasihan dengan kudanya, masak di naiki bersama-sama, kan seharusnya bisa bergantian?’

Akhirnya bpk anak berhenti dan beristirahat di pinggir sungai, sambil makan perbekalan yang di bawa dari rumah, sang bpk berkata pada anaknya, ‘ kamu dengar kan komentar mereka berbeda-beda, ini salah itu juga salah. Anaknya menyahut,’ trus sebaiknya bagaimana?’ dengan tersenyum bpknya menyahut.’ Seandainya kita melanjutkan perjalanan dengan memikul kuda sekalipun, pasti banyak orang yang berkomentar, artinya apapun yang kita kerjakan pasti akan di komentari orang lain. Yang penting kita melakukan sesuatu secara benar bagi diri kita dan benar menurut tatanan masyarakat, masalah komentar anggaplah sebagai masukan dan kritikan yang jika ada benarnya bisa kita lakukan sebagai koreksi diri kita namun jangan sampai menghentikan langkah kita atau mematahkan semangat kita’.

Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan yang jaraknya masih setengah hari lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: